Assalamualaikum Warahmatullahi Wabaratuh
Selamat bertemu lagi dengan saya Aan Sulistiawan, Calon Guru Penggerak Angkatan 6 dari UPTD SMPN 1 Melinting Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung. Selamat bertemu kembali dengan saya dan kali ini saya akan menuliskan tentang jurnal refleksi dwi mingguan saya pada modul 2.1 tentang Pembelajaran Berdiferensiasi. Jurnal refleksi ini harus dituangkan kedalam jurnal refleksi setiap saya menyelesaikan materi setiap modul. dan jurnal refleksi ini merupakan tugas yang wajib harus dilakukan pada pendidikan guru penggerak oleh semua Calon Guru Penggerak. Seperti biasanya saya menuliskan kegiatan refleksi ini saya menggunakan model 4F yaitu:
- Facts (Peristiwa)
- Feelings (Perasaan)
- Findings (Pembelajaran)
- Future (Penerapan)
Dan marilah kita ikuti satu persatu refleksi saya tentang modul 2.1. Pembelajaran Berdiferensiasi yang telah saya pelajari.
1. Facts (Peristiwa)
Sebelum memulai paket modul 2 tentang Praktik Pembelajaran yang Berpihak Pada Murid, saya dan peserta CGP secara keseluruhan dihadapkan atau diberikan pre-tes sebagai tes awal paket modul 2 yang dilaksanakan pada Jum'at, 28 Oktober 2022 dengan durasi 1 jam dan 30 pertanyaan.
Pada awal modul 2.1, dalam alur Mulai dari diri, saya membuat refleksi tentang kondisi kelas yang saat ini di ampu dengan segala keragaman murid. Kemudian menjelaskan tantangan yang hadapi dalam proses pembelajaran di kelas yang disebabkan oleh keragaman murid serta tindakan yang telah lakukan untuk mengatasi tantangan tersebut.
Pada tahap eksplorasi konsep, saya membuat diagram frayer mengenai apa yang saya pahami tentang pembelajaran berdiferensiasi.
Dalam ruang kolaborasi yang dipandu oleh Ibu Elpina Sinda selaku fasilitator, Bapak Wayan Santi Ika dan Bu Sri Kartini selaku PP, saya bersama 3 orang rekan CGP yakni Bapak Cok Bagus, Bu May dan Bu Desi menganalisis kasus SMK dimana kami dapat menyimpulkan bahwa tokoh Pak Ceta sebagai guru SMK melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi walaupun kondisi pembelajaran jarak jauh.
Dalam Demonstrasi kontekstual, saya membuat RPP pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan mata pelajaran yang diampu, yakni mata pelajaran matematika untuk kelas 9.
Selanjutnya mengikuti kegiatan elaborasi pemahaman modul 2.1 pada hari Selasa, 08 November 2022 Sesi 1 (13.00 - 14.00) bersama instruktur yaitu Ibu Desi Andriani melalui Gmeet. Pada kegiatan ini saya banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman yang disampaikan instruktur dan teman-tean CGP lainnya. Instruktur memberikan asupan ilmu tentang pemahaman yang sangat mendalam mengenai konsep Filosofi KHD dan penerapannya pada konteks lokal sosial budaya.
2. Feelings (Perasaan)
Pada modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi membuat penasaran karena sebagai guru harus memberlakukan siswa sesuai dengan karakteristiknya. Selama ini hanya berfokus pada ketercapaian materi kurikulum, sehingga yang saya kejar adalah ketuntasan materi. Efek/ dampak yang ada mengabaikan bahwa ada banyak keragaman kebutuhan belajar murid dalam satu kelas. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai filosofi dari KHD tentang belajar adalah menuntun murid mencapai tujuan, dan tentunya guru tidak bisa memaksa masing-masing murid untuk melewati jalan yang sama dalam mencapai tujuannya, namun guru dituntut bisa memfasilitasi murid dengan berbagai jalan alternatif yang sesuai dengan kebutuhan murid.
3. Findings (Pembelajaran)
Pembelajaran berdiferensiasi didesain agar guru bisa melaksanakan pembelajaran yang mampu mengakomodir berbagai macam kebutuhan belajar murid. Guru harus memiliki kepekaan dalam merespon semua kebutuhan belajar murid, hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan : bagaimana kesiapan belajar murid; bagaimana minat murid terhadap materi pembelajaran kita; dan seperti apa profil belajar murid. Kemudian dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu juga memperhatikan strategi : diferensiasi konten; diferensiasi proses; dan diferensiasi produk. Dan dalam proses penilaian, guru menggunakan penilaian berjenjang. Harapannya, semua murid bisa memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti pembelajaran, sehingga lingkungan yang aman dan nyaman pun akan didapatkan murid.
4. Future (Penerapan)
Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat diselenggarakan secara efektif, maka perlu pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan, minat dan profil belajar murid, agar guru dapat menentukan perbedaan konten, proses, serta produk dalam kegiatan pembelajaran. Yaitu dengan asesmen diagnostic non kognitif. Data pemetaan bisa diperoleh dari data murid pada tahun/semester sebelumnya, melalui angket, melalui pengamatan, atau wawancara dengan sesama rekan guru dan wali murid. Bagi saya ini merupakan pengetahuan baru, sehingga dalam prakteknya butuh proses dan terus belajar. Semoga dapat berkontribusi dalam transformasi pendidikan di Indonesia, murid menjadi aset yang kelak menjadi pemimpin bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar